Selasa, 30 Maret 2021

BOTCHAN (Review Buku)

 


Judul: 𝐁𝐎𝐓𝐂𝐇𝐀𝐍 

Penulis: 𝐍𝐚𝐭𝐬𝐮𝐦𝐞 𝐒𝐨𝐬𝐞𝐤𝐢 

𝐀𝐥𝐢𝐡 𝐁𝐚𝐡𝐚𝐬𝐚: 𝐈𝐧𝐝𝐚𝐡 𝐒𝐚𝐧𝐭𝐢 𝐏𝐫𝐚𝐭𝐢𝐝𝐢𝐧𝐚 

Penerbit: 𝐏𝐓. 𝐆𝐫𝐚𝐦𝐞𝐝𝐢𝐚 𝐏𝐮𝐬𝐭𝐚𝐤𝐚 𝐔𝐭𝐚𝐦𝐚

Tahun: 𝟐𝟎𝟎𝟗

Halaman: 𝟐𝟐𝟒 𝐡𝐥𝐦; 𝟐𝟎 𝐜𝐦


𝘽𝙡𝙪𝙧𝙗

Seperti cerita 𝘛𝘩𝘦 𝘈𝘥𝘷𝘦𝘯𝘵𝘶𝘳𝘦𝘴 𝘰𝘧 𝘏𝘶𝘤𝘬𝘭𝘦𝘣𝘦𝘳𝘳𝘺 𝘍𝘪𝘭𝘮, BOTCHAN mengisahkan pemberontakan seorang guru muda terhadap "sistem" di sebuah sekolah desa. Sifat Botchan yang selalu terus terang dan tidak mau berpura-pura sering kali membuat ia mengalami kesulitan dalam berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya. Cerita yang dituturkan secara humoris ini sangat populer di kalangan tua dan muda di Jepang, dan barangkali merupakan novel klasik yang paling banyak dibaca di Jepang modern.

BOTCHAN mengisahkan pemberontakan seorang guru muda terhadap "sistem" di sebuah sekolah desa. Sifat Botchan yang selalu terus terang dan tidak mau berpura-pura sering kali membuat ia mengalami kesulitan dalam berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya.


📚📚📚

Botchan merupakan buku klasik Jepang yang mengisahkan pemberontakan seorang guru muda terhadap "sistem" di sebuah sekolah desa. Botchan disini dapat diartikan "Tuan Muda". Sudut pandang orang pertama adalah Aku, seorang laki-laki yang dipanggil Botchan oleh Kiyo, pelayan keluarganya.

.

Botchan semasa muda selalu membuat keonaran dan suka berkelahi. Orangtuanya membencinya dan lebih menyanyangi kakak laki-lakinya. Tetapi hanya Kiyo, yang sudah tua, yang percaya bahwa Botchan adalah anak yg baik, jujur, dan selalu berterus terang. Ketika orangtuany meninggal dunia dan berpisah dengan kakaknya, Botchan melanjutkan pendidikan dan stelah lulus dia bekerja sebagai guru matematika di sebuah desa yang jauh dari Tokyo.

.

Dapat dikatakan bahwa tema novel ini adalah pendidikan dan moralitas. Novel ini minim dialog dan lebih banyak narasinya. Menggambarkan secara detail kehidupan Botchan di desa tempat dia bekerja. Menurutku ceritanya sederhana, awalnya memang agak membosankan. 

.

Tapi disini aku tahu bahwa di dunia kerja yang dihadapi Botchan penuh dengan kelicikan dan penjegalan. Botchan yang selalu ceplak ceplos dan jujur, geram dengan teman sesama guru yang mementingkan dirinya sendiri. Tak hanya guru saja, di sini juga mengisahkan tentang perilaku murid yg minus moral.

.

Di sini penulus menunjukkan idealisme seorang Botchan dengan segala pertarungan hati dan pikirannya. Botchan dengan temanny, Hotta, bersama-sama memerangi kelicikan yang terjadi di tempat kerjanya.

"Kata pendidikan tidak hanya berarti memperoleh pengetahuan akademis. Pendidikan juga berarti menanamkan semangat mulia, kejujuran, serta keberanian, lalu menghapuskan kebiasaan licik, usil, serta tak bertanggung jawab." (Hotta, Hlm 112)

.

Selasa, 23 Maret 2021

DRUPADI (Review Buku)

 


Judul: 𝐃𝐫𝐮𝐩𝐚𝐝𝐢

Penulis: 𝐒𝐞𝐧𝐨 𝐆𝐮𝐦𝐢𝐫𝐚 𝐀𝐣𝐢𝐝𝐚𝐫𝐦𝐚

Penerbit: 𝐏𝐓.𝐆𝐫𝐚𝐦𝐞𝐝𝐢𝐚 𝐏𝐮𝐬𝐭𝐚𝐤𝐚 𝐔𝐭𝐚𝐦𝐚 

Tahun: 𝟐𝟎𝟏𝟕 

Halaman: 𝟏𝟒𝟗 𝐡𝐥𝐦


𝘽𝙡𝙪𝙧𝙗

"𝘼𝙥𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙖𝙧𝙩𝙞𝙣𝙮𝙖 𝙋𝙖𝙣𝙙𝙖𝙬𝙖 𝙩𝙖𝙣𝙥𝙖 𝘿𝙧𝙪𝙥𝙖𝙙𝙞."

Dewi Drupadi tidak menyukai suratan. Kehidupan manusia tidak ada artinya tanpa perjuangan. Jika segalanya telah menjadi suratan, apakah yang masih menarik dalam hidup yang berkepanjangan? Apakah usaha manusia tidak ada artinya? Apakah semuanya memang sudah ditentukan oleh dewa-dewa? Seperti ia menjadi istri dari lima ksatria Pandawa?

"𝙈𝙖𝙠𝙖 𝙝𝙞𝙙𝙪𝙥 𝙙𝙞 𝙙𝙪𝙣𝙞𝙖 𝙗𝙪𝙠𝙖𝙣 𝙝𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙨𝙤𝙖𝙡 𝙠𝙞𝙩𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙟𝙖𝙙𝙞 𝙗𝙖𝙞𝙠 𝙖𝙩𝙖𝙪 𝙢𝙚𝙣𝙟𝙖𝙙𝙞 𝙗𝙪𝙧𝙪𝙠, 𝙩𝙖𝙥𝙞 𝙨𝙤𝙖𝙡 𝙗𝙖𝙜𝙖𝙞𝙢𝙖𝙣𝙖 𝙠𝙞𝙩𝙖 𝙗𝙚𝙧𝙨𝙞𝙠𝙖𝙥 𝙠𝙚𝙥𝙖𝙙𝙖 𝙠𝙚𝙗𝙖𝙞𝙠𝙖𝙣 𝙙𝙖𝙣 𝙠𝙚𝙗𝙪𝙧𝙪𝙠𝙖𝙣 𝙞𝙩𝙪."

.

Novel ini merupakan novel sastra, Drupadi seorang perempuan poliandris. Penulis menceritakan kisah Drupadi dari awal kelahirannya sampai kisah kematiannya.

.

Drupadi tidak hanya cantik dan mempesona, tetapi ia juga cerdas dan pemberani. Drupadi bersuamikan kelima Pandawa, yaitu Yudhistira, Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa. Kekalahan dalam perjudian yang dilakukan Yudhistira dalam melawan Duryudana, membuat suasana menjadi meresahkan dan Drupadi menjadi korban pemerkosaan.

.

Drupadi berani menyuarakan isi hatinya sebagai perempuan yang menjadi korban penindasan. 

"Apakah seorang perempuan boleh dihina dan tidak dipedulikan harga dirinya? ... Aku telah selalu mengabdi kepada mereka, tapi apa pengabdian mereka kepadaku? Bukankah pria dan wanita sesungguhnya setara? Tapi mereka tidak pernah menyetarakan perempuan!." (hlm 96)

Drupadi membela hak asasinya sebagai perempuan. Drupadi mengatakan, "Kemarahan adalah hak manusia, ... Kita mempunyai hak untuk suatu kemarahan yang beralasan, dan aku menggunakan hak seorang perempuan." (Hlm 99)

.

Penulis mengajak kita melihat novel ini dari sudut pandang feminisme. Yang berkisah tentang cinta, dendam, hak seorang perempuan, dan kesetiaan menjalani peran dalam kehidupan. Walaupun ceritanya terkesan melompat-lompat, tapi aku masih bisa menikmatinya.