Selasa, 23 Maret 2021

DRUPADI (Review Buku)

 


Judul: 𝐃𝐫𝐮𝐩𝐚𝐝𝐢

Penulis: 𝐒𝐞𝐧𝐨 𝐆𝐮𝐦𝐢𝐫𝐚 𝐀𝐣𝐢𝐝𝐚𝐫𝐦𝐚

Penerbit: 𝐏𝐓.𝐆𝐫𝐚𝐦𝐞𝐝𝐢𝐚 𝐏𝐮𝐬𝐭𝐚𝐤𝐚 𝐔𝐭𝐚𝐦𝐚 

Tahun: 𝟐𝟎𝟏𝟕 

Halaman: 𝟏𝟒𝟗 𝐡𝐥𝐦


𝘽𝙡𝙪𝙧𝙗

"𝘼𝙥𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙖𝙧𝙩𝙞𝙣𝙮𝙖 𝙋𝙖𝙣𝙙𝙖𝙬𝙖 𝙩𝙖𝙣𝙥𝙖 𝘿𝙧𝙪𝙥𝙖𝙙𝙞."

Dewi Drupadi tidak menyukai suratan. Kehidupan manusia tidak ada artinya tanpa perjuangan. Jika segalanya telah menjadi suratan, apakah yang masih menarik dalam hidup yang berkepanjangan? Apakah usaha manusia tidak ada artinya? Apakah semuanya memang sudah ditentukan oleh dewa-dewa? Seperti ia menjadi istri dari lima ksatria Pandawa?

"𝙈𝙖𝙠𝙖 𝙝𝙞𝙙𝙪𝙥 𝙙𝙞 𝙙𝙪𝙣𝙞𝙖 𝙗𝙪𝙠𝙖𝙣 𝙝𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙨𝙤𝙖𝙡 𝙠𝙞𝙩𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙟𝙖𝙙𝙞 𝙗𝙖𝙞𝙠 𝙖𝙩𝙖𝙪 𝙢𝙚𝙣𝙟𝙖𝙙𝙞 𝙗𝙪𝙧𝙪𝙠, 𝙩𝙖𝙥𝙞 𝙨𝙤𝙖𝙡 𝙗𝙖𝙜𝙖𝙞𝙢𝙖𝙣𝙖 𝙠𝙞𝙩𝙖 𝙗𝙚𝙧𝙨𝙞𝙠𝙖𝙥 𝙠𝙚𝙥𝙖𝙙𝙖 𝙠𝙚𝙗𝙖𝙞𝙠𝙖𝙣 𝙙𝙖𝙣 𝙠𝙚𝙗𝙪𝙧𝙪𝙠𝙖𝙣 𝙞𝙩𝙪."

.

Novel ini merupakan novel sastra, Drupadi seorang perempuan poliandris. Penulis menceritakan kisah Drupadi dari awal kelahirannya sampai kisah kematiannya.

.

Drupadi tidak hanya cantik dan mempesona, tetapi ia juga cerdas dan pemberani. Drupadi bersuamikan kelima Pandawa, yaitu Yudhistira, Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa. Kekalahan dalam perjudian yang dilakukan Yudhistira dalam melawan Duryudana, membuat suasana menjadi meresahkan dan Drupadi menjadi korban pemerkosaan.

.

Drupadi berani menyuarakan isi hatinya sebagai perempuan yang menjadi korban penindasan. 

"Apakah seorang perempuan boleh dihina dan tidak dipedulikan harga dirinya? ... Aku telah selalu mengabdi kepada mereka, tapi apa pengabdian mereka kepadaku? Bukankah pria dan wanita sesungguhnya setara? Tapi mereka tidak pernah menyetarakan perempuan!." (hlm 96)

Drupadi membela hak asasinya sebagai perempuan. Drupadi mengatakan, "Kemarahan adalah hak manusia, ... Kita mempunyai hak untuk suatu kemarahan yang beralasan, dan aku menggunakan hak seorang perempuan." (Hlm 99)

.

Penulis mengajak kita melihat novel ini dari sudut pandang feminisme. Yang berkisah tentang cinta, dendam, hak seorang perempuan, dan kesetiaan menjalani peran dalam kehidupan. Walaupun ceritanya terkesan melompat-lompat, tapi aku masih bisa menikmatinya. 


Kamis, 18 Maret 2021

Rembulan di Mata Ibu (Review Buku)


Judul: 𝐑𝐞𝐦𝐛𝐮𝐥𝐚𝐧 𝐝𝐢 𝐌𝐚𝐭𝐚 𝐈𝐛𝐮 

Penulis: 𝐀𝐬𝐦𝐚 𝐍𝐚𝐝𝐢𝐚 

𝐏𝐞𝐧𝐞𝐫𝐛𝐢𝐭: 𝐌𝐢𝐳𝐚𝐧 

Tahun: 𝟐𝟎𝟎𝟎 

Halaman: 𝟏𝟔𝟎 𝐡𝐥𝐦


𝘽𝙡𝙪𝙧𝙗

Seingat Diah

Selama ini ibu tidak pernah bersikap lembut kepadanya. Jangankan bersikap lembut, tersenyum saja barangkali hanya sesekali, itu pun hukan senyum ramah, melainkan senyum mengejek.

Hingga suatu ketika, Diah bisa keluar dari kungkungannya, Diah mendapat beasiswa untuk kuliah di kota lain. Waktu itu, Diah berharap Ibu akan senang mendengarnya, tetapi malah sebaliknya, Ibu mengejek dengan mencerca pendidikan yang akan ditempuhnya.

Dan sekarang, setelah hampir lima tahun tidak berjumpa, tiba-tiba Ibu meminta Diah pulang. Ada apa gerangan? Apa Ibu belum puas memusuhinya? Atau sebaliknya? Cerita ini terbalut dalam 𝘙𝘦𝘮𝘣𝘶𝘭𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘔𝘢𝘵𝘢 𝘐𝘣𝘶.

Bersama 𝘙𝘦𝘮𝘣𝘶𝘭𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘔𝘢𝘵𝘢 𝘐𝘣𝘶, masih ada cerita lain. Semua mengandung hikmah untuk direnungkan.


📚📚📚📚📚

Sejenak nostalgia semasa SMP. Seingatku, aku membaca buku ini saat aku masih dibangku SMP. Salah satu kumpulan cerpen favoritku dikala itu. Dan beruntungnya aku, masih tersimpan di rak bukuku.


Buku ini merupakan kumpulan cerpen karya Mba Asma Nadia. Siapa yang ga kenal Asma Nadia?  Mba Asma Nadia telah banyak menerbitkan karya-karyanya, salah satunya kumpulan cerpen remaja islami ini.


Buku ini berisi kumpulan cerpen dengan sembilan judul cerpen di dalamnya. Yaitu, pertama dengan judul, Denting Kasih Senja Hari, tentang perjalanan seorang laki-laki dalam menemukan arti kehidupan. Cerpen kedua, Di Bening Persahabatan. Tentang persahabatan antara perempuan dan laki-laki. Cerpen ketiga, Rembulan di Mata Ibu. Cerita yang sangat membekas, tentang seorang anak yang membenci ibunya karena kesalahpahaman diantara keduanya.


Cerpen keempat, Koran Gondrong. Cerita tentang laki-laki yang dengan sukarela memotong rambut gondrong kesayangannya, demi tujuan mulia. Cerpen kelima, Secercah Surya Tengah Hari. Tentang seorang pria pengangguran yang menjadi pencopet amatiran.


Cerpen keenam, Gaya-gaya Tante Erna. Cerita tentang seorang keponakan yang sudah lelah menghadapi sikap tantenya. Cerpen ketujuh, Jai. Tentang pria yang suka bertingkah jail, sampai membuat orang-orang kesal padanya. Cerpen kedelapan, Sejuta Kasih Sayang. Cerita tentang seorang anak berkebutuhan khusus yang menguji kesabaran ibunya.

Dan cerpen terakhir berjudul Tali Kasih. Cerpen yang bercerita tentang pengkhianatan dari seorang sahabat, penyesalan, serta penerimaan.


Semua kisah dalam buku ini, memberikan makna tersirat kepada pembacanya. Juga memberikan nasihat lewat obrolan-obrolan ringan. Cerpen favoritku disini adalah Rembulan di Mata Ibu, Sejuta Kasih Sayang dan Tali kasih. 


Apakah kalian juga ingin ikut bernostalgia dengan buku ini?