Jumat, 05 Maret 2021

Catatan Harian Menantu Sinting (Review Buku)


 

Judul: 𝐂𝐚𝐭𝐚𝐭𝐚𝐧 𝐇𝐚𝐫𝐢𝐚𝐧 𝐌𝐞𝐧𝐚𝐧𝐭𝐮 𝐒𝐢𝐧𝐭𝐢𝐧𝐠 

Penulis: 𝐑𝐨𝐬𝐢 𝐋. 𝐒𝐢𝐦𝐚𝐦𝐨𝐫𝐚 

Penerbit: 𝐏𝐓.𝐆𝐫𝐚𝐦𝐞𝐝𝐢𝐚 𝐏𝐮𝐬𝐭𝐚𝐤𝐚 𝐔𝐭𝐚𝐦𝐚 

Tahun: 𝟐𝟎𝟏𝟖

Halaman: 𝟐𝟑𝟐 𝐡𝐥𝐦; 𝟐𝟎 𝐜𝐦 

𝐈𝐒𝐁𝐍 𝟗𝟕𝟖𝟔𝟎𝟐𝟎𝟑𝟖𝟎𝟔𝟕𝟒


𝘽𝙡𝙪𝙧𝙗

Aku Minar

Ini cerita cinta versi aku dan Sahat (dan... Mamak Mertua).

Seru. Ngeselin. Gemesin.

Sekaligus sangat menantang.

Ditambah latar belakang keluarga besar Batak yang penuh drama dan asumsi, kisah-kisahku lebih sering berakhir konyol dan nyaris bikin aku frustasi.

Apalagi aku dan Mamak Mertua punya kepercayaan berbeda tentang cinta dan kebahagiaan, terutama kalau menyangkut Sahat, kesayangan kami berdua.

Dengan bahasa yang ringan, cerita ini sengaja dikemas untuk membuat pembacanya terbahak-bahak.


📚

Awal bulan, rasanya aku pingin baca buku yang lucu-lucu bikin ngakak. Akhirnya aku memilih buku ini untuk kubaca diawal bulan 😁.

Buku ini berisi kumpulan cerita tentang Minar, Sahat (suami Minar) dan Mamak Mertua (Mamaknya Sahat).

Mereka tinggal bersama seatap dengan Mamak Mertua. Gimana rasanya tinggal dengan mertua? Pastinya yang dirasakan Minar itu campur aduk, gak bebas, gemes, kesel, stress, pingin marah juga gak bisa, rasanya cuma pingin nyakar-nyakar aspal karena kelakuan Mamak Mertua yang super bawel, kepo, suka ikut campur, wah nano nano dah 😂


Kisah keseharian Minar, menantu "nelangsa" 😂 kental dengan budaya dan bahasa Batak. Kisah yang sangat menghibur, bahasanya juga apa adanya. Ketika aku membaca percakapan khas ala Mamak Mertua, didalam hatiku jadi kayak ikut berbicara aksen bataknya. 

Ada beberapa kejadian yang bikin aku kesel dan gemes, eh kayaknya disemua part selalu bikin gemes ding hahaha. Begitu sabarnya Minar menghadapi Mamak Mertuanya, bahkan Sahat anak kandungnya pun tidak bisa berkutik jika Mamaknya bertahta 😂.


Novel ini diperuntukan untuk 21+ ya. Yaaa karena didalamnya juga diceritakan kisah kisah aduhai pasutri di ranjang. Minar dan Sahat yang berusaha mendapatkan momongan pun selalu mendapat gempuran dari Mamak Mertua. Bayangkan, si Mamak ngotot ikut ke dokter kandungan, si Mamak pun juga sampai tahu hari masa suburnya Minar. Si Mamak heboh subuh-subuh nelponin mereka yang lagi asyiknya bercengkrama  Bacanya beneran ikut kesel tapi juga selalu bikin ngakak 😂.


Selain itu, aku jadi tahu beberapa bahasa Batak setelah membaca novel ini. Tenang, ada catatan kakinya kok disini. Jadi tahu arti dari bahasa Batak tersebut. Dan ending dari novel ini heboh deh, nano nano 😂.

Senin, 01 Maret 2021

SAIA (Review Buku)

 


Judul: 𝐒 𝐀 𝐈 𝐀 

Penulis: 𝐃𝐣𝐞𝐧𝐚𝐫 𝐌𝐚𝐞𝐬𝐚 𝐀𝐲𝐮 

Penerbit: 𝐏𝐓. 𝐆𝐫𝐚𝐦𝐞𝐝𝐢𝐚 𝐏𝐮𝐬𝐭𝐚𝐤𝐚 𝐔𝐭𝐚𝐦𝐚

Tahun: 𝟐𝟎𝟏𝟒 

𝐂𝐞𝐭𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐠𝐚 𝟐𝟎𝟏𝟕

Halaman: 𝟏𝟑𝟗 𝐡𝐥𝐦 

𝐈𝐒𝐁𝐍 𝟗𝟕𝟖𝟔𝟎𝟐𝟎𝟑𝟑𝟖𝟗𝟓𝟖



𝙋𝙚𝙧𝙝𝙖𝙩𝙞𝙖𝙣... 𝘽𝙪𝙠𝙪 𝙞𝙣𝙞 𝙝𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙙𝙞𝙥𝙚𝙧𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠𝙖𝙣 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙙𝙚𝙬𝙖𝙨𝙖 𝙮𝙖

.

Ini pertama kalinya aku membaca buku karya dari Djenar Maesa Ayu. Awalnya aku kaget, bahasanya agak vulgar. Tapi setelah aku baca lebih jauh, cerpen-cerpen di dalamnya cukup menarik.

Buku ini merupakan kumpulan cerpen, terdapat 15 judul cerpen di dalamnya. Isi cerpen didalamnya berkisah tentang perempuan yang berjuang dengan kehidupan yang penuh dengan pahit dan luka.

.

Berbagai persoalan didalamnya tidak jauh dengan persoalan tentang seksualitas, kekerasan, moralitas dan pelacuran. Kisah-kisah di dalamnya membawa kita ikut merasakan keresahan, kesakitan baik psikis maupun fisik, kegelisahan, dan kesedihan.

.

Ada yang unik di kumcer ini, yaitu cerpen dengan judul "Nol-Dream Land". Cerpen yang tiap halamannya dipenuhi dengan suara detak jarum jam yang ada di dalam kepala seorang perempuan, 𝘛𝘰𝘬-𝘵𝘰𝘬, 𝘵𝘪𝘬-𝘵𝘰𝘬. Adalagi judul cerpen "Air Mata Hujan", hanya 1 halaman. Untuk bunda-bunda atau kakak-kakak yang pernah membaca buku ini, bisa tolong jelaskan maksud cerpen dengan judul tersebut? Aku beneran bingung dengan judul cerpen tersebut hehe ✌️

.

Selain tentang seksualitas, salah satu judul cerpen SAIA menceritakan tentang keluarga yang kurang harmonis. Hubungan antara suami dan istri dan juga anak. Selalu terjadi pertengkaran dan KDRT, anak menjadi korban kekerasan dari orangtua. Miris 😭

"Mereka pun menghukum saya tanpa belas kasihan. Bergantian melemparkan caci makian. Juga tonjokan. Tak terkecuali tendangan. Mereka tak peduli walau saya sudah menangis minta ampun dan merintih kesakitan. Sepertinya, hanya saat menghukum saya itulah pendapat mereka tak lagi bersebrangan. Mereka yang semulai bagai anjing dan kucing, tiba-tiba berubah bak teman persekutuan." (Hlm 72)