Rabu, 28 Juli 2021

THE OLD MAN AND THE SEA (Review Buku)


Judul: 𝐓𝐡𝐞 𝐎𝐥𝐝 𝐌𝐚𝐧 𝐚𝐧𝐝 𝐓𝐡𝐞 𝐒𝐞𝐚
Penulis: 𝐄𝐫𝐧𝐞𝐬𝐭 𝐇𝐞𝐦𝐢𝐧𝐠𝐰𝐚𝐲
𝐏𝐞𝐧𝐞𝐫𝐣𝐞𝐦𝐚𝐡: 𝐃𝐞𝐞𝐫𝐚 𝐀𝐫𝐦𝐲 𝐏𝐫𝐚𝐦𝐚𝐧𝐚
𝐏𝐞𝐧𝐞𝐫𝐛𝐢𝐭: 𝐍𝐀𝐑𝐀𝐒𝐈
Tahun: 𝟐𝟎𝟏5
Halaman: 𝟏𝟔𝟒 𝐡𝐥𝐦; 𝟏𝟏.𝟓𝐱𝟏𝟖,𝟓 𝐜𝐦

The Old Man and The Sea bercerita tentang nelayan tua yang berpengalaman, Santiago. Namun di suatu waktu, ia melewatkan delapan puluh empat hari tanpa menangkap seekor ikan pun. Di masyarakat, ia kemudian disebut sebagai salao, yaitu bentuk terburuk dari ketidakberuntungan.

Karena sebutan itulah, Manolin, seorang bocah lelaki yang sering membantunya, dilarang oleh orang tuanya untuk membantu Santiago, dan memintanya untuk membantu nelayan-nelayan lain yang lebih sukses dan lebih banyak menangkap ikan. Betapa mirisnya jika seorang nelayan dicap sudah tak mampu lagi menangkap ikan.

Santiago adalah lelaki yang tak pantang menyerah. Dia pergi berlayar sendirian ke Gulf Stream, yang letaknya di Samudra Atlantik. Disinilah kekuatan dan keteguhannya diuji. Ia berjuang selama berhari-hari di tengah lautan dengan rasa lelah dan badan yang penuh dengan luka-luka.

Novel tipis ini memberikan pesan kehidupan kepada kita. Karakter nelayan tua, Santiago yang memiliki semangat dan tekad yang tinggi. Sebagai nelayan yang sudah berusia lanjut, ia hanya ingin menunjukkan eksistensinya. Ia ingin membuktikan bahwa ia bukan salao, meskipun ia harus mempertaruhkan nyawanya. Dan Manolin, bocah lelaki yang selalu berbaik hati dan selalu peduli pada Santiago.

Selain itu, buku ini juga memberikan gambaran yang menarik, karena berlatarbelakang kehidupan laut. Menurutku, penulis menggambarkan kehidupan laut dengan detail dan bisa mengajakku ikut berimajinasi.

Selasa, 27 Juli 2021

DI TANAH LADA (Review Buku)


JUDUL: 𝐃𝐢 𝐓𝐚𝐧𝐚𝐡 𝐋𝐚𝐝𝐚
PENULIS: 𝐙𝐢𝐠𝐠𝐲 𝐙𝐞𝐳𝐬𝐲𝐚𝐳𝐞𝐨𝐯𝐢𝐞𝐧𝐧𝐚𝐳𝐚𝐛𝐫𝐢𝐳𝐤𝐢𝐞
PENERBIT: 𝐆𝐫𝐚𝐦𝐞𝐝𝐢𝐚 𝐏𝐮𝐬𝐭𝐚𝐤𝐚 𝐔𝐭𝐚𝐦𝐚
TAHUN: 𝟐𝟎𝟏𝟓
HALAMAN: 𝟐𝟒𝟒 𝐡𝐥𝐦

Di Tanah Lada, merupakan novel karya Ziggy yang pertama kubaca. Berkisah tentang seorang anak berusia enam tahun yang bernama Salva atau biasa dipanggil Ava. Ava selalu membawa kamus bahasa Indonesia kemanapun dia pergi. Kamus itu merupakan hadiah ulang tahunnya dari Kakek Kia. Sejak itu Ava menjadi anak yang pintar berbahasa Indonesia.

Kehidupan Ava dipenuhi kesedihan, karena perlakuan kasar dari Papanya. Hal ini sering membuat Mamanya menangus. Ava selalu ketakutan jika bertemu dengan Papanya, terlebih jika Papanya marah. Ava berpendapat bahwa semua orang yang menjadi Papa itu adalah orang yang jahat.

Setelah Kakek Kia meninggal, Ava sekeluarga pindah ke Rusun Nero. Rusun yang kumuh, kotor, dan lembab. Disinilah Ava bertemu dengan seorang anak laki-laki berusia 10 tahun, bernama P. Dari pertemuan itulah, petualangan Ava dan P bermula hingga sampai pada akhir yang mengejutkan.

Dengan sudut pandang orang pertama, yang diambil dari pikiran Ava, membuat novel ini unik. Aku merasa sedih saat membaca novel ini. Siapa yang tidak akan sedih ketika mendengar seorang anak dengan polosnya bercerita tentang bagaimana Papa mereka memperlakukan mereka dengan kejam.

Lewat kisah Ava, kita bisa belajar banyak untuk lebih memahami dunia anak-anak. Karena anak-anak masih sangat rentan mengalami trauma, jadi sayangi mereka, berikan perhatian dan kasih sayang untuk mereka. Novel ini berhasil membuat emosiku naik turun.

"Tapi, Ava, yang lebih penting daripada bertutur kata baik adalah bertutur kata dengan 𝘵𝘦𝘱𝘢𝘵." (hlm. 66).