Selasa, 27 Juli 2021

DI TANAH LADA (Review Buku)


JUDUL: 𝐃𝐢 𝐓𝐚𝐧𝐚𝐡 𝐋𝐚𝐝𝐚
PENULIS: 𝐙𝐢𝐠𝐠𝐲 𝐙𝐞𝐳𝐬𝐲𝐚𝐳𝐞𝐨𝐯𝐢𝐞𝐧𝐧𝐚𝐳𝐚𝐛𝐫𝐢𝐳𝐤𝐢𝐞
PENERBIT: 𝐆𝐫𝐚𝐦𝐞𝐝𝐢𝐚 𝐏𝐮𝐬𝐭𝐚𝐤𝐚 𝐔𝐭𝐚𝐦𝐚
TAHUN: 𝟐𝟎𝟏𝟓
HALAMAN: 𝟐𝟒𝟒 𝐡𝐥𝐦

Di Tanah Lada, merupakan novel karya Ziggy yang pertama kubaca. Berkisah tentang seorang anak berusia enam tahun yang bernama Salva atau biasa dipanggil Ava. Ava selalu membawa kamus bahasa Indonesia kemanapun dia pergi. Kamus itu merupakan hadiah ulang tahunnya dari Kakek Kia. Sejak itu Ava menjadi anak yang pintar berbahasa Indonesia.

Kehidupan Ava dipenuhi kesedihan, karena perlakuan kasar dari Papanya. Hal ini sering membuat Mamanya menangus. Ava selalu ketakutan jika bertemu dengan Papanya, terlebih jika Papanya marah. Ava berpendapat bahwa semua orang yang menjadi Papa itu adalah orang yang jahat.

Setelah Kakek Kia meninggal, Ava sekeluarga pindah ke Rusun Nero. Rusun yang kumuh, kotor, dan lembab. Disinilah Ava bertemu dengan seorang anak laki-laki berusia 10 tahun, bernama P. Dari pertemuan itulah, petualangan Ava dan P bermula hingga sampai pada akhir yang mengejutkan.

Dengan sudut pandang orang pertama, yang diambil dari pikiran Ava, membuat novel ini unik. Aku merasa sedih saat membaca novel ini. Siapa yang tidak akan sedih ketika mendengar seorang anak dengan polosnya bercerita tentang bagaimana Papa mereka memperlakukan mereka dengan kejam.

Lewat kisah Ava, kita bisa belajar banyak untuk lebih memahami dunia anak-anak. Karena anak-anak masih sangat rentan mengalami trauma, jadi sayangi mereka, berikan perhatian dan kasih sayang untuk mereka. Novel ini berhasil membuat emosiku naik turun.

"Tapi, Ava, yang lebih penting daripada bertutur kata baik adalah bertutur kata dengan 𝘵𝘦𝘱𝘢𝘵." (hlm. 66).

Kamis, 01 Juli 2021

SAGRA (Review Buku)


 𝐒𝐚𝐠𝐫𝐚 • 𝐎𝐤𝐚 𝐑𝐮𝐬𝐦𝐢𝐧𝐢 • 𝐏𝐞𝐧𝐞𝐫𝐛𝐢𝐭: 𝐆𝐫𝐚𝐬𝐢𝐧𝐝𝐨 • 𝐀𝐩𝐫𝐢𝐥 𝟐𝟎𝟏𝟕 • 𝟐𝟏𝟗 𝐡𝐥𝐦


Buku sagra berisi kumpulan cerpen tentang perempuan Bali dengan rasa feminisme di dalamnya. Sebelas judul cerpen di dalam buku ini, menceritakan keunikan cerita masing-masing. Salah satu cerpen yang membuatku merasakan kengerian, emosi, dan kesedihan adalah cerpen yang berjudul "Pesta Tubuh". Lewat cerita ini, penulis seolah ingin menuntut keadilan perempuan Bali yang tertindas karena perlakuan tentara Jepang pada masa penjajahan. Banyak perempuan Indonesia yang dijadikan gundik dan objek seksual tentara Jepang.


"Luh Rumpig diam. Dadanya sakit seperti diremas. Hampir sepuluh laki-laki telah menggigit tubuhnya, memerasnya, menghujamkan pisau-pisau lapar ke sela-sela pahanya. Menguras dan memukulinya secara kasar setiap kali menyetubuhinya." (Hlm 55)


Cerita-cerita yang disajikan penulis membuatku kagum. Ibarat cerita-cerita di dalam buku ini isinya "daging" semua, berisi, dan memberikan pesan tersendiri.


Lewat kumpulan cerpen ini, penulis menyuarakan bahwa perempuan juga memiliki hati dan perasaan. Perempuan juga mempunyai hak untuk dihormati dan diperlakukan selayaknya manusia, bukan dijadikan boneka, pemuas nafsu.