Jumat, 01 Januari 2021

Buku Favoritku di Tahun 2020


.
Tahun 2020 target membacaku sebenarnya 35 buku. Aku naikan dari tahun 2019 yang hanya 20 buku hahaha.
Tapi ternyata di tahun ini, yang berhasil aku baca sebanyak 30 buku. Lumayan lah naik 😁
.
Dari 30 buku yang aku baca di tahun 2020 ini.
Berikut adalah 5 buku favoritku:
1. Aroma Karsa, karya Dee Lestari
2. Tak Masalah Jadi Orang Biasa, karya Urfa Qurrota Ainy
3. Arah Musim, karya Kurniawan Gunadi
4. Selena, karya Tere Liye
dan,
5. Nebula, karya Tere Liye
.
Sebenarnya lebih dari lima. Tapi pada akhirnya aku memutuskan lima buku saja hehe.
Aku berharap di tahun 2021, target bacaku tercapai.
.
Apakah buku favoritmu juga ada disalah satu daftar buku favoritku? Hehe 😁✌️

Rabu, 16 Desember 2020

RANGKUMAN MATERI WEBINAR: " FILM KARTUN DAN ANIMASI DALAM PERSPEKTIF PSIKOLOGI PERKEMBANGAN ANAK"



    I.          PENGEMBANGAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN ANAK USIA DINI

Standar merupakan acuan untuk mengukur kualitas, namun seringkali standar ini dipahami sebagai standarisasi, jadi standar nasional pendidikan itu tidak bermakna standarisasi, tidak bermakna penyeragaman. Standar bukan alat kendali, bukan alat untuk memberi sanksi. Tetapi standar digunakan sebagai acuan untuk memfasilitasi kita harusnya seperti apa. Jadi standar sebagai acuan untuk memfasilitasi (enabling), standar menuju kualitas merupakan acuan bagaimana kita menyelenggarakan pendidikan anak usia dini.

STPPA adalah Standar Tingkat Pencapaian Perkembangan Anak. Namun, karena PAUD bukan lulusan maupun bukan kompetensi, maka menyatakannya dengan standar tingkat pencapaian anak.

Rumusan perkembangan anak merupakan integrasi dari perkembangan nilai agama dan moral, fisik-motorik, kognitif, bahasa, dan social-emosional.

A.           Layanan PAUD

Layanan PAUD dilaksanakan dengan prinsip menjunjung tinggi harkat martabat dan hak-hak anak, demokratis, non-diskriminasi, transparan, akuntabel, memberdayakan semua potensi, pelibatan keluarga, dan peningkatan mutu berkelanjutan.

Pelibatan keluarga merujuk pada ketentuan:

1.   Keluarga berperan utama dalam pendidikan anak sejak lahir hingga usia dua   tahun

2.   Keluarga bersinergi dengan lembaga PAUD untuk anak usia di atas dua tahun sampai enam tahun.

B.            Lingkup materi aspek perkembangan agama dan moral, meliputi:

1.   Keyakinan pada Tuhan Yang Maha Esa

2.   Ajaran dan tata cara ibadah agama

3.   Perilaku berakhlak mulia

4.   Kebiasaan beribadah sesuai dengan ajaran agama

5.   Kerukunan dan toleransi dengan sesame penganut agama dan antar pemeluk agama yang berbeda

C.            Lingkup materi aspek perkembangan fisik, meliputi:

1.   Gerakan motorik kasar

2.   Gerakan motorik halus

3.   Pengetahuan dan ketrampilan tentang kesehatan dan keselamatan diri

D.           Lingkup materi aspek perkembangan kognitif, meliputi:

1.   Matematika.

Untuk mengajarkan logika berpikir

2.   Sains

Untuk mengembangkan rasa ingin tahunya

3.   Teknologi

4.   Social dan budaya

E.            Lingkup materi aspek perkembangan bahasa, meliputi:

1.   Bahasa ekspresif

2.   Bahasa reseptif

3.   Keaksaraan awal

Bukan berarti mengajarkan peserta didik untuk membaca, tetapi untuk memperkenalkan huruf.

F.             Lingkup materi aspek perkembangan social-emosional, meliputi:

1.   Pengenalan diri sendiri

2.   Pengendalian emosi

3.   Menjalin hubungan dengan orang lain

G.           Fungsi SN-PAUD Masa Depan

SN PAUD difungsikan bukan merupakan instrument untuk menghukum, agar lebih difokuskan untuk menjamin hak peserta didik akan pendidikan bermutu. SN PAUD sebagai acuan penyusunan kebijakan dan strategi untuk memberdayakan dan memfasilitasi satuan pendidikan anak usia dini, pendidik, tenaga kependidikan dalam mewujudkan PAUD bermutu.

 

 II. PENTINGNYA FILM ANAK DAN BUDAYA SENSOR MANDIRI DALAM PERSPEKTIF HUKUM DAN KEBIJAKAN

Anak berhak mendapatkan informasi sesuai dengan tahapan usia dan perkembangannya.

Budaya Sensor Mandiri dan Tips Menonton Film

1.   Dampingi anak saat menonton

2.   Batasi jam menonton

3.   Pilih film yang sesuai usia anak

4.   Mengingatkan hal-hal baik yang patut ditiru dan penanaman nilai-nilai positif


III.          PEMBAGIAN KATEGORI TAYANGAN KONTEN ANIMASI BERDASARKAN       USIA

A.           USIA 0-3 TAHUN: Lower preschool

Konten pada kelompok umur ini dikreasikan untuk memberikan stimulasi perkembangan kognitif pada anak. Visual animasinya sangat sederhana, interaktif, repetitive dan lambat dalam penyampaian. Dari aspek visual menggunakan bentuk yang sederhana dan warna yang cerah.

B.            USIA 3-5 TAHUN: Upper preschool

Konten pada kelompok umur ini dikreasikan untuk memberikan stimulasi perkembangan kognitif pada anak. Visual animasinya lebih kompleks terkait pesan yang akan diangkat apabila dibandingkan kelompok lower pre school, interaktif, repetitive masih digunakan dalam penyampaian. Dari aspek visual menggunakan bentuk yang kompleks dan warna yang cerah.


C.            USIA 6-8 TAHUN: Children

Konten pada kelompok umur ini cenderung penokohan, struktur ceria, dan konflik sederhana. Konten cenderung memiliki story arc pendek/ episodic, namun premis dibangun kuas. Durasi format episode bervariasi antara 3-11 menit per episode. Bahkan ada format yang berdurasi pendek antara 1-5 menit berfungsi sebagai pengisi jeda acara bernama interstitial.


D.           USIA 9-11 TAHUN: Children

Konten pada kelompok umur ini cenderung penokohan, struktur cerita, dan konflik cerita lebih kompleks. Konten cenderung memiliki story arc pendek/ episodic, namun premise dibangun luas. Durasi format episode bervariasi antara 11-24 menit per episode.


E.            USIA 12-15 TAHUN: Teen

Konten pada kelompok umur ini cenderung penokohan, struktur cerita, dan konflik cerita lebih kompleks. Konten cenderung memilki story arc yang panjang atau juga berdiri sendiri setiap episodenya, teknis produksi lebih kompleks dari teknis animasinya, live action, atau panjang rata-rata 90 menit.




IV. FILM KARTUN INDONESIA DDALAM PRESPEKTIF PSIKOLOGI PERKEMBANGAN ANAK

HAK ANAK

1.      Hak Hidup

2.      Hak Tumbuh Kembang, tumbuh kembang untuk jiwanya juga.

3.      Hak perlindungan. Perlindungan dari berbagai paparan yang mungkin justru kontra produktifdiktif membuat anak tergelincir menjadi pelaku kekerasan dan sebagainya

4.      Hak partisipasi

 

Dibutuhkan unsur asah asih dan asuh.

·        Asah, kebutuhan akan stimulasi mental sejak dini. Salah satunya melalui film-film animasi.

·        Asih, kebutuhan emosional juga dengan bimbingan yang penuh suasana keramah tamahan.

·        Asuh , asupan gizi pada putra putri kita yang usia dini/ balita.

 

Prinsip pengasuhan anak tentu dengan:

·          Kasih sayang

·          Perhatian

·          Komunikasi

·          Stimulasi

·          Asupan gizi

 

Anak usia dini secara umum pada biasanya senang belajar, senang bergerak, senang berteman, senang berpetualang, senang mencoba merupakan kreatifitasnya tidak takut salah, senang bermain, senang melawan kala dalam masa-masa egosentrismenya.

Suasana bermain ini tentu merangsang berbagai aspek, moral, spiritual, emosi, dan social, bahasa dan sebagainya.

 

Semua anak senang belajar

 

Sumber belajar:

·          Keluarga

·          Buku-buku: dari orangtua yang mendongengkan anak-anaknya

·          Film

·          Sekolah/ paud

·          Sosmed

·          Teman bermain

·          Dan sebagainya

 

Manfaat film kartun:

·                    Sebagai media belajar

·                    Perkembangan kognitif

·                    Perkembangan bahasa

·                    Perkembangan kreativitas

·                    Memberikan hiburan

 

Film kartun banyak manfaatnya

Film kartun ditunggu anak

Tapi juga bisa bahaya

Bila tanpa unsur etika

 

v PERTANYAAN:

1.        Bagaimana agar anak terbiasa menonton tontonan di televise yang beredukasi, missal cerita pendek bermain sambil belajar dll, sehingga anak sudah tidak lagi menonton tontonan di handphone orangtuanya?

Jawaban:

        Sebetulnya memang anak-anak tertarik pada sesuatu yang menarik. Unsur warna warni, gerak, lagu, humor, dan sebagainya. Yang lebih ditonton anak yang lebih menghibur, sekarang bagaimana kita sebagai orangtua mengarahkan  sebagai tontonan tapi juga ada unsur tuntunan tadi. Kalau perlu juga dipadu dengan keakraban antara anak dan orantua, dilakukan pendampingan orang tua, jangan dilepas, kalau perlu ada dialog. Mungkin diperlukan alat peraga seperti boneka. Sehingga anak melihat ditayangan di televise yang  cukup jelas tapi kemudian juga hadir dalam menggambar, mewarnai, boneka bisa bersalaman. Sehingga suasananya betul-betul terpadu antara tontonan dilayar dengan kehidupannya yang nyata yang bisa dipersepsi anak-anak di keluarga.

Perlu pengorbanan orangtua, untuk menyediakan waktu, diminta untuk mendampingi anak untuk menonton tayangan televisi dan memberi pesan edukatif, mengulas bersama anak agar tujuan tayangan itu dapat tercapai.




Sharing is Caring